FKH, Kampus C. Ruang gerak para dosen, peneliti, dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, kini semakin leluasa. Dalam melaksanakan tugas belajar, penelitian, atau yang lain, kini mereka telah diberi kesempatan yang lebih luas. Khusus untuk penelitian dan pengabdian masyarakat, bersama pihak Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen dan Kebun Binatang Surabaya (KBS), FKH Unair bertekad akan melebarkan kiprahnya.
Sebagai penanda, Selasa (10/9) kemarin, FKH Unair bersama TSI II Prigen serta Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya (PTFSS) KBS, telah menandatangani sebuah Memorandum of Agreement (MoA). Bertempat di aula FKH Unair, Dekan FKH, Prof. Romziah Sidik, Ph.D., drs., MS., telah menjalin kesepakatan dengan Ketua Kurator TSI II Prigen, drh. Ivan Chandra (mewakili Direktur TSI), dan Ketua PTFSS, Prof. drh. Soehartojo Hardjopranjoto.
Menurut Prof. Romziah, kerjasama ini terjalin karena adanya kesamaan kepentingan. Baik itu dalam hal penelitian, konservasi, ataupun usaha pelestarian sumber daya alam, terutama satwa. Ditujukan untuk kepentingan besar ilmu pengetahuan. "FKH Unair memiliki SDM, peneliti, dan fasilitas akademik berupa laboratorium. Maka dengan konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi, kedua pihak bisa saling bersinergi mengembangkan kepentingan secara bersama-sama. Mahasiswa dan dosen juga mendapat tempat dan penelitian yang komplit dan lebih luas. Baik itu di KBS maupun yang ada di Taman Safari di Prigen," ujar Prof. Romziah.
Kerjasama ini berusaha mempertajam aktivitas penyelamatan dan pelestarian terhadap satwa-satwa liar dan langka yang dimiliki oleh Indonesia. Dikatakan oleh Dekan FKH Unair, baik itu Banteng Jawa, Harimau Jawa, Harimau Sumatera, Jalak Bali, ataupun Komodo, merupakan kekayaan alam Indonesia yang harus dilestarikan dari kepunahannya.
"Itu merupakan tanggungjawab kita bersama untuk menjaga dan melindungi. Nanti kita bisa bersama-sama mengawasi kesehatannya dengan penelitian-penelitian, melakukan konservasi, pengembangbiakan. Bahkan bisa dipelajari kemungkinan melakukan transfer embrio pada satwa liar tersebut," tambah Guru Besar FKH Unair ini.
Ditambahkan oleh Ivan Chandra, pihaknya bersama FKH Unair TSI Prigen, ingin bisa melaksanakan aktivitas lebih konkret. Terutama untuk kepentingan pengembangan satwa. Diakui, selama ini seakan hanya banteng saja yang ditangani. Tetapi sebenarnya, TSI juga mengkonservasi satwa yang lain.
"Pada dasarnya kita sudah harus berpikir global, sehingga kita harus memulai upaya untuk mencapai hak cipta internasional, khususnya terhadap satwa liar yang dilindungi, dan untuk itulah kita perlu bekerjasama," tandas Ivan, yang juga alumnus FKH Unair tahun 1994.
Sementara Prof. Soehartojo menilai, bahwa sinergi tiga lembaga ini sangatlah cocok. FKH Unair sebagai lembaga pendidikan dan penelitian, TSI sebagai lembaga konservasi, dan PTFSS sebagai organisasi penyelamat satwa. Untuk itu, keikutsertaan dosen, peneliti, dan mahasiswa sangat diharapkan dalam melaksanakan penelitian terhadap satwa.
Meliputi kesehatan satwa, reproduksi, dan kemungkinan transfer embrio, hingga diakui oleh pihak internasional. Menurut Guru Besar Emiritus FKH Unair itu, populasi satwa bisa dicapai jika angka kelahiran, lebih besar daripada angka kematiannya. Sementara yang dicapai selama ini, barulah keseimbangannya. “Karena itu, jika teknologi embrio transfer bisa dilaksanakan, maka pengembangan populasi satwa liar dan satwa langka akan ada harapan baru,” ujarnya sembari menjelaskan teknis transfer embrio tersebut.
Sabtu, 24 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar