skip to main |
skip to sidebar
Bissmillahirrohmanirrohim...
Memahami pesan agama, baik melaui kitab/lewat keterangan sesama makhluk..perlu hati-hati..
"Allah mengazab siapa yg dikehendakiNYA dan memberi rahmat kpd siapa yg dikehendakiNYA, dan hanya kepadaNYA lah km akan dikembalikan". (QS. Al-Ankabuut : 21)
Jika kita tidak pahami secara hati2 firman ALLAH tersebut bisa membuat kita buruk sangka pada ALLAH SWT.
Krn kata ALLAH mengazab dlm ayat tersbut seolah-olah menggambarkan ALLAH sangat kejam pd makhluk ciptaanNYA sendiri.
Padahal tidak demikian..krn sesungguhnya ALLAH adalah DZAT Yang Maha Rahman&Maha Rahim. Tidak mungkin ALLAh akan menghukum ciptaanNYA sendir dg dasar kebencian.
Kalaupun ALLAH menghukum hambaNYA pastilah berdasar sifat Rahman&Rahim NYA, bukan krn kebencian.
Dengan kata lain, terhadap org yg suka berbuat makar kpdNYA, ALLAH SWT tetap memperlihatkan sifat Rahman&RahimNYA lewat hukuman.
Sejak masa kenabian Rasulullah SAW, ALLAH SWT tidak pernah lagi mengirim azab untuk hambaNYA. Jadi, sekiranya di sekitar kita saat ini ada fenomena alam yg sering terjadi, yg sering diartikan sbg azab ALLAH SWT, yg terjadi diluar jangkauan akal agar kita bisa menerimanya, maka akan lebih selamat jika kita memahami fenomena itu tak lebih sbg tanda Rahman&&RahimNYA.
Dg cara spt itu, insya allah peluang kita untuk berburuk sangka pada ALLAH SWT, menjadi lebih kecil. Sebab fenomena alam apa pun yg terjadi di sekitar kia, tidak lagi kita pahami sbg azab, melainkan sbg rahmat ALLAH SWT yg harus kita syukuri..
Sesungguhnya ALLAH SWT yg tahu persis mengapa mereka mendapat 'hadiah' berupa fenomena alam itu. Dan, cukuplah bagi kita untuk menganggap&memprasangkakan kejadian itu sbg tanda Rahman&RahimNYA.....
Bissmillahirrohmanirrohim...
Kamu ingin memiliki rejeki yg melimpah dan penuh barokah?
Jawabannya mudah..
Ikuti saja apa yang disarankan Rasulullah SAW, cobalah belajar menjaga tali silaturahmi dengan keluarga&kerabat dekat. Menjaga berarti : merawat hubungan yg telah berlangsung, menyambung hubungan yg sempat terputus&memperbaiki tali silaturahmi yg rusak.
Masalah rejeki merupakan salah satu hal yang dirahasiakan ALLAH SWT. Hanya ALLAH SWT yg mengetahui kapan seorang hamba akan mendapat rejeki. Dan pada kenyataannya, memang DIA lah yang memberi rejeki untuk hamba-hambaNYA. Seperti halnya masalah jodoh&kematian, yg mutlak berada dlm genggamannya.
"Dan apakah mereka tdk memperhatikan bahwa sesungguhnya ALLAH melapangkan rejeki bagi siapa yg dikehendakiNYA, dan DIA pula yg menyempitkan rejeki itu. Sesungguhnya, pada yg demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi kaum yang beriman." (QS. Ar-Ruum : 73)
Jika ALLAH SWT ingin memberi kita rejeki, maka tidak mungkin jika ALLAH SWT membiarkan keluarga&kerabat dekat kita tidak memperoleh rejeki. Ada kemungkinan sebelum kita menerima rejeki, maka keluarga&kerabat dekat kita mendapat giliran lebih awal, setelah itu baru kita. ALLAH SWT sungguh berlaku adil&tidak pernah membedakan.
Itulah beberapa hikmah mengapa pencapaian rejeki itu diletakkan ALLAH SWT&RasulNYA pada bangunan tali silaturrahmi antara kita dg keluarga&kerabat terdekat kita. Jika bangunan tersebut terawat dg baik, insya allah aliran rejeki pun akan berjalan lancar pula.
"Jika sekiranya kamu berkuasa, lalu mengacau di bumi&memutuskan tali silaturrahmi, maka mereka itulah yang dikutuk oleh ALLAH dan ditulikan pendengarannya serta dibutakan pengelihatannya." (HR. Bukhari-Muslim)
Bissmilahirrohmanirrohim..
Ujian terberat yg dihadapi oleh seseorang hamba adalah sat dia diminta untuk membuktikan keimanannya pada ALLAH SWT.
Sebuah pernyataan telah beriman saja belumlah cukup bagi ALLAH SWT, perlu pembuktian terlebih dahulu..
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang-orang yg benar dan Sesungguhnya DIA mengetahui orang-orang yg dusta." (QS. An-Ankabuut : 2-3)
Beruntunglah kita hidup di akhir jaman ini, sebab ujian iman yg kita hadapi untuk memnbuktikan keimanan tidaklah seberat spt yg dialami oleh para sahabt Nabi, yg pernah mengalami ujian berupa siksaan fisik yg sangat berat.
Sebaliknya ujian fisik pada jaman kita ini, nyaris sudah tidak aja lagi. Namun, bobot ujian yg kita hadapi juga tidak bisa dipandang remeh, yaitu ujian untuk melawan hasutan hawa nafsu&melawan pengaruh akal pikiran kita yg selalu mengajak untuk bersebrangan dg kehendak ALLAH SWT.
Ujian iman dalam bentuk yg lain, adalah agar tidak berprasangka buruk pd setiap kejadian yg ada di sekitar kita.
"Kami akan menguji kamu dg keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yg sebenar-benarnya. Dan hanya kepada KAMIlah kamu dikembalikan". ( QS. Al-Anbiyaa` : 35)
Tatkal kita ditakdirkan ALLAH untuk menjadi seorang ahli maksiat. Padahal, kita tidak ingin menjadi hamba yg seperti itu, maka satu yg harus kita percaya bahwa di tempat tersebut ada banyak pelajaran yg bisa kita peroleh. Jika kita tidak pandai berprasangka baik pd ALLAH bisa jadi kita akan menuding ALLAH berlaku tidak adil pd diri kita.
Ketika kita dihadapkan dg sesorang hamba yg tengah berbuat maksiat di depan kita. Bagaimana sikap kita?Apakah kita akan mengadili org tersebut?Atau bersikap masa bodoh?Atau kita akan memaksa dia untuk segera bertaubat?
Jika kita memilih untuk mengadili, maka pertanyaan yg muncul adalah siapakah kita ini?
Patutkah kita mengadili sesama makhluk, sedang ALLAH SWT, DZAT yg telah menciptakan makhluk itu masih membiarkan mereka berbuat spt itu?Mengapa kita harus marah pada mereka?
Ujian jenis inilah yg paling berat, krn kita dihadapkan dg sesuatu yg bertolak belakang dg sifat ALLAH SWT. Kita seharusnya percaya, bahwa tidak mungkin ALLAH SWT menciptakan makhlukNYA untuk menjadi seorang ahli maksiat..Namun ada saja makhluk yg bermaksit kepadaNYA?
Jika benar kita memiliki iman, maka tidak mungkin kita akan menuding&mengadili org yg berbuat maksit. Justru sebaliknya, ketika melihat kerusakan seharusnya kita mendoakan agar org tersebut segera mendapat hidayah&unanNYA.
Sebab, org yg beriman sadar bahwa org yg masih berkubang dalam kemaksiatan itu mutlak ALLAH SWT yang menggerakkan.
Org yg beriman seharusnya tidak berlaku sebaliknya menghujat, mengadili, menghukumnya. Jika kita melakukannya, berarti kita telah mengambil peran ALLAH SWT Yang Maha Pengampun&Maha Penerima Taubat.Sangatlah tidak pantas jika kita sbg makhluk bersikap melebihi sikap Sang Pencipta thdp makhlukNYA.
Inilah ujian terberat yg dihadapi seorang hamba...
Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan kekuatan pada kita agar dapt melaluinya....AMIEN
"Bertakwalah pd ALLAH SWT dan bersabarlah. Sesungguhnya , kesabaran itu hanya terletak pada pukulan pertama musibah". (HR. Bukhari-Muslim)