Senin, 14 Desember 2009

Lesbian, Normal kalee..!!!!

Sering banget ketika asik ngobrol-ngobrol pashang out bareng dengan temen-temen, dari bibir-bibir mereka yang bermacam-macam bentuknya sering ngucapin kata “normal” untuk sebutan orang yang menyukai lawan jenis (heteroseksual) dan “sakit” untuk orang yang menyukai sesama jenis (homoseksual). Atau diantara sela-sela rumpian tentang cewe-cewe impian mereka, tiba-tiba nongol pertanyaan “Apakah aku bisa sembuh?”. Mmmh..cape deh..

Mungkin memang belum banyak yang tau, kalau Persatuan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan pada tanggal 17 Mei 1981. Setelah momentum penting itu terjadi, tiap tahunnya tanggal 17 Mei dijadikan sebagai Hari Internasional Melawan Homophobia (International Day Against Homophobia/IDAHO). Selain itu, pada tahun 1992 Persatuan Kesehatan Dunia mengeluarkannya dari daftar klasifikasi penyakit (International Classification Diseases).

Tapi sungguh disayangkan, selama ini masih jarang banget ahli psikologi atau psikiatri di Indonesia menginformasikan hal ini ke masyarakat luas. Dan kita bisa ngeliat justru masih banyak rubrik konsultasi seksologi atau psikologi di beberapa majalah dan koran lebih menyarankan seorang gay atau lesbian untuk bisa kembali menjadi heteroseksual dengan cara lebih banyak gaul dengan lawan jenis dan mengurangi pergaulan dengan teman-teman homoseksual yang dianggap menularkan sifat-sifat homoseks. Hal ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan di benak kita, kayaknya udah sering banget gaul dengan temen-temen heteroseksual tapi kok gak ketularan jadi heteroseksual ya? Emang panu kali ye menular..

Pernyataan-pernyataan yang sering diangkat bahwa menjadi seorang gay atau lesbian adalah penyakit atau abnormal, menyebabkan individu-individu pecinta sesama jenis kerap terganggu dengan orientasi seksual yang dimilikinya dan seringkali berusaha untuk menyukai lawan jenisnya atau dengan kata lain berusaha untuk menjadi seorang heteroseksual. Selain itu, perasaan-perasaan seperti tidak disukai, cemas dan sedih menjadi permasalahan yang harus dihadapi hampir tiap harinya. Konflik-konflik diri ini yang kemudian menyebabkan ngerasa kesepian, malu dan depresi. Semua itu begitu dirasakan dampaknya terutama oleh remaja gay dan lesbian yang dilaporkan tiga kali lebih mungkin mencoba untuk bunuh diri dibanding temen-temennya yang mencintai lawan jenis. Kenyataan ini kemudian juga menimbulkan peningkatan jumlah alkoholisme dan pemakaian zat terlarang lain pada gay dan lesbian remaja.

Diantara keresahan dan kegelisahan yang dialami temen-teman gay dan lesbian itu, ada pula yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya dan tidak berusaha untuk mengubah dirinya menjadi seorang heteroseksual. Berdasarkan hasil penelitian, gay dan lesbian yang seperti ini justru mampu mencapai tingkat pendidikan, ekonomi, pekerjaan sama tingginya dengan orang-orang heteroseksual, bahkan kadang-kadang lebih tinggi. Bagi lesbian biasanya mereka dapat lebih mandiri, fleksibel, dominan, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dan tenang. Gay dan lesbian seperti ini juga lebih jarang mengalami kecemasan dan kesulitan psikologis daripada heteroseks. Karena mereka menerima dan tidak terganggu secara psikis dengan orientasi seksual mereka, sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dan seksualnya secara efektif.

Nah, pastinya pengen banget kan untuk bisa ngerasa nyaman dengan orientasi seksual yang kita miliki? Memang dibutuhkan sebuah proses untuk dapat mencapai titik penerimaan seutuhnya pada diri kita. Alur proses itu tentunya bisa diawali dengan nggak lagi nyebut atau ngucap kata “sakit” untuk diri sendiri. Jika memang kita ingin dianggap “normal” oleh lingkungan sekitar kita, harus dimulai pada diri kita sendiri untuk mengatakan bahwa “Saya normal dan baik-baik saja”. Lagipula Persatuan Kesehatan Dunia sudah mengeluarkan pernyataan bahwa menjadi seorang perempuan homoseksual atau lesbian bukanlah penyakit kejiwaan, jadi gak ada alasan buat kita untuk masih sebut diri kita sebagai orang “sakit”.

Last but not least... Lesbian bukanlah penyakit. Lesbian hanyalah masalah orientasi seksual, dan kita tetap bisa menunjukkan karya-karya, prestasi atau buah pikir yang sama seperti manusia lainnya. Sudah terbukti banyak lesbian yang sukses pada profesinya masing-masing, yaitu menjadi penyiar televisi ternama, penyanyi terkenal, atlit internasional atau bahkan anggota parlemen. Lesbian, normal kalee...!!

Sumber : Institut Pelangi Perempuan

Tidak ada komentar: